Sunday, 13 September 2015

Rembulan Di Atas Pulau Jawa



Apa kau tau,
Rembulan terkadang nampak berbeda?
Bukan bentuk tubuhnya yang terkadang sabit maupun purnama
Melainkan, cara menyapa kita, sayang...

Terkadang, rembulan tadi tersenyum meronah warna
Terkadang pula, tak muncul semalaman sebab
Hujan tak kunjung selesai menyapa alam
Atau, seperti malam ini, sayang?
Bulan datang dengan bersusah payah
Mengusir sebaris awan gelap yang malang melintang di depan tubuhnya

Akh, barangkali, seperti itu pula cara sapaku padamu, sayang..
Terkadang anggun, angkuh bahkan ketus
Maafkan tabi’atku padamu;

Apa kau tau,
Rembulan terkadang datang dengan cara yang berbeda?

05 Mei 2015

~selepas menikmati rembulan di atas jalan Jawa; kampus Tegalboto~

Kabar Tertunda





“Nak! Kemarin maut telah berhasil
Memetik buah di pohon kita,” begitu selirih ibu

“Maafkan ibu, baru sampaikan ini padamu”

Sekelumit Kisah Di Pesantren (Bagian Satu)



 Bagiku, bicara tentang pesantren takkan pernah ada habisnya. Ia telah menjelma bak tetesan air yang sedikit demi sedikit tercecer hingga akhirnya berhasil melubangi sebongkah batu. Ya, daku tak bermaksud sombong atau melebihkan apa yang telah daku jalani selama Lima tahun.

Kau tau, kawan. Barangkali, saat ini adalah waktu yang paling tepat tuk ceritakan mengenai salah satu masa dalam hidupku yang dijalani di tanah rantau. Tak ada maksud tertentu. Hanya sebatas jemari tangan yang gatal ingin menulis di dinding blog ini. Sebab, dengan cara inilah terkadang muncul pertanyaan dari dalam benak daku kepada Tuhan. Khususnya, mengenai takdir. Dan inilah, asal muasal kisahku ini.
Selepas SMP, tepatnya saat daku menyibukkan diri di sekolah dengan mengikuti les untuk masuk SMA, daku menerima kabar jikalau Bumi Djauhari-lah tempat daku menimba ilmu selanjutnya. Bukan di SMA favorit yang menjadi impian daku dan kawan-kawan seperjuangan. 

Awalnya, daku shock. Bagaimana mungkin seorang manusia seperti daku menyantri dan itupun jauh dari tanah kelahiran. Ya, di ujung timur Madura sana tempat perantauannya. Jujur saja, daku tak suka yang berhubungan dengan pesantren. Seratus persen. Bagi daku, hidup akan terasa hidup kalaulah menjalani kehidupan di luar sana bukan malah mendekam di dalam pesantren. 

Ya, pikiran daku sangatlah sempit kala itu. Yang ada di dalam benak hanyalah anggapan mengenai sistem pesantren yang masih ketinggalan dengan pendidikan di luar sana. Meski anggapan tersebut terbukti salah di akhirnya. 

Kau tau, kawan. Di malam daku menerima brosur tempat daku menimba ilmu nantinya, daku tak bisa tidur. Pikiran daku melanglang buana. Mosi tak percaya sempat pula daku lontarkan pada Tuhan. Rasanya, Tuhan tak adil memberikan jalan hidup pada daku. Hidup yang berjalan susah, masih ditambah menyantri pula. Ai, buruk tenan nasib daku ini.

Ada perasaan malu tatkala kawan-kawan di kelas ataupun di angkot bertanya mengenai kebenaran keinginan daku untuk sekolah di SMA favorit. Malu, sebab keinginan tersebut ternyata sebatas angin lalu saja. Dan disaat daku mengatakan sebenarnya terkait pesantren, kawan-kawan daku tak ada yang percaya. Sebagian heran. Sebagian kecil mensuport. Daku paham, kalaulah mereka terheran dengan keputusan ini. Jangankan mereka, daku sendiri bingung tak percaya dengan takdir yang akan dijalani. 

Kau tau, manusia macamku ini, yang hobinya main layangan setiap setiap siang ataupun bersepeda sampai ujung villa hingga ibuku marah, tak bakal ada yang percaya kalaulah aku akan masuk ke pesantren. Bagi mereka, kalau ada orang macamku ini masuk ke pesantren, artinya itu proses agar daku inysaf. Karenanya, mendekam di dalam pesantren adalah jalan satu-satunya. Lalu, apa bedanya daku dengan narapidana? Bukankah, mereka mendekam di dalam penjara sebagai hukuman atas perbuatan yang mereka lalukan sehingga mereka menjadi lebih baik saat kelar nantinya? Lalu, kesalahan apa yang daku perbuat sampai-sampai daku harus mendekam di dalam pesantren? Alamak. Nasib sudah buruk masih ditambah dengan anggapan yang buruk pula. Kian miris jiwa daku ini. (bersambung)

Tuesday, 8 September 2015

Nostalgia Pesantren




Bila hari esok masih ada sisa usia
Sedangkan lambaian daun-daun mangga di pojok halaman rumahku
Masih tak ubah seperi dulu
Akan kudatangi tempatku bertemu denganmu
Menerjemah irsyadat guru,
 yang tak sempat aku hitung di peraduan air mata

Nasehat Ibu



“Sebelum senja datang menguningkan usia, cepatlah pulang”

Aku masih mengingatnya, bu. Kalimat itu, tak mungkin aku lupa. Ya, sebaris kalimat yang tak pernah bosan mengabsen dari bibirmu. Jujur saja, setiap kali nasehat tadi meluncur, selalu saja aku berpikir mengapa kau tak pernah bosan mengatakannya setiap hari. Sedangkan aku hanya mengangguk bahkan terkadang bak mendengar angin lalu.

“Jangan sampai sore. Nanti, kau mesti mengaji. Kasian kawan-kawanmu menunggu” Lanjutmu kemudian.

Kini, aku sudah dewasa, bu. Tak lagi kudengar kalimat tadi meluncur dari bibirmu. Ada perasaan rindu mengingat kenangan di masa kecil. Rasa-rasanya, baru kemarin aku terlelap dalam omelanmu setiap hari. Tak lain sebabnya, aku bermain sampai ke ujung villa. Mengejar layangan, bermain sepeda sampai desa sebelah. Kau tau, bu. Ingin sekali aku kembali ke masa lalu. Saat mengejar layangan yang putus lalu menyangkut di dahan pepohonan lalu memanjatnya. Terang saja kau marah kalaulah aku ketahuan. Bahkan, puluhan layangan yang kusimpan di bawah tempat tidur sebab takut ketahuan, berhasil kau berikan pada saudaraku. Dan, kau hanya menyisakan satu layangan.
Tetapi ibu, kini, tatkala aku tak lagi mengejar layangan, ataupun bersepeda ke desa sebelah, nasehatmu turut tak terdengar. Rupanya waktu mengantar kepada alam perubahan. Ya, masa telah menemaniku menjadi sosok dewasa. Dan aku, ingin sekali mendengar nasehatmu bahkan omelanmu seperti dulu.
Yaa, meski aku tak sepaham engkau memahami hidup, tetapi harus kukatakan ini padamu, kalaulah macam begini tabi’at hidup.

“Sebelum senja datang menguningkan usia, cepatlah pulang”
Begitulah nasehatmu; dulu


07 September 2015

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...