sudah ratusan menit,
semenjak tubuh November mengalir dalam risalah hidupku
hingga Maret di ujung waktu,
selalu saja, terasa sulit menemui senja
seperti sore ini,
tak kutemui sepotong senja
bahkan sejengkal bintang
dalam kaki langit
dua hari lagi, April kan bertamu
semoga senja tak malu-malu
atau selalu mau mendengar ceritaku tentangmu
sebab,
hanya senja, yang selalu setia menungguku di emperan masjid ini
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, yang telah memberikan setetes ilmu diantara kubangan samudera, untuk seluruh manusia"
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Hikayat Seorang Santri Bodoh
Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...
-
Hey, kawan. Ingatkah saat sore seperti ini, kita pernah duduk di emperan Geserna menikmati rayuan senja? Ah, barangkali kalian sedi...
-
Aku tak lagi memiliki gairah. Hidup sebatas terasa menerima. Menjalaninya tanpa upaya memahami. Apakah ini pertanda Tuhan tak lagi berk...
-
Tulisan ini tak harus kau baca, Bintang. Sebab, yang kuinginkan bukanlah kehadiranmu bahkan sapamu. Tulisan ini sekedar tempat bercerita ...
No comments:
Post a Comment