Sunday, 11 October 2015

Bermula Dari Cerita Es Krim



Nyatanya, kemiskinan masih ada. Dimanta-mana pula. Entah miskin harta atau miskin moral. Seperti para koruptor yang sibuk melambaikan tangan.
Tetapi, ceritaku di sore ini bukan tentang koruptor. Bukan pula lakon para pengendara motor di perempatan lampu merah. Melainkan sebuah potret kecil dari rakyat kecil macamku ini.
Begini ceritanya.....
Beberapa menit yang lalu, saat mengantri premium di pom bensin Wirolegi, ada seorang anak kecil bersama seorang ibu yang berdiri di dekat sepeda. Awalnya aku tak menyadari keberadaan keduanya. Lambat laun mataku terperangah melihat kesibukan ibu dan anak ini.
Kau tau, sang anak yang kutaksir usianya sekitar empat tahun-an ini sedang asyik menikmati es krim yang baru dibeli dari Indomaret –ini ku tahu dari bungkus plastik yang dipegang sang ibu. Sementara di sebelahnya, sang ibu turut sibuk pula. Dan ini, ya, kesibukan ini yang membuatku menahan pandangan.
Rupanya sang ibu turut menikmati es krim merek conetto tadi dengan menjilati bungkusan yang ia buka beberapa waktu lalu. Ai, lama benar ia menjilatinya. Berkali-kali pula. Seakan ia tak rela kalau ada sisa coklat di ujung bungkusan tadi. Dan parahnya, mereka sberdua berdiri di tengah jalan, diantara antrian motor dan mobil. Kontan saja banyak orang yang melihat aksi keduanya.
Begitupun aku yang berada di belakang mereka. Merasa terus menerus dipandangi, serta menyadari pandanganku yang tak berubah, sang ibu menarik lengan sang anak. Berteduh di bawah pohon. Jujur saja, bukan rasa es krim tadi yang menggiurkan lidahku sehingga memandangi mereka lebih lama-meski sedikit kuakui, aku menginginkannya pula. Tetapi, perangai sang ibu penyebabnya. Terbukti, sampai mereka berdua duduk di bawah pohon, sang ibu masih belum melepas pandangannya. Masih terus menatap lekat sang anak yang terus menjilati es krim dengan perasaan takut meleleh. Dan sekali-kali pula, sang ibu menarik lengan sang anak. Turut menjilati es krim tadi.
Kau tau kawan, sesaat pandanganku bertabrakan dengan mata sang ibu, ada satu bahasa yang berhasil disampaikan. Ya, apalagi kalau bukan susahnya menjalani hidup..Aku berhasil membaca bahasa sang ibu yang baru selesai bekerja menjadi kuli di gudang tembakau ini. Mata sang ibu menyampaikan kalaulah harga satu es krim tadi sejatinya mampu dibelikan sekilogram beras untuk sekeluarga. Tetapi, ya, inilah hidup. Teramat susah.
Sebenarnya, mata sang ibu menyiratkan suatu permintaan untuk mendengarkan cerita sekaligus beban hidupnya padaku. Tetapi keburu pergi. Barangkali, sang ibu tak jadi bercerita sebab sang suami telah selesai membeli premium dan beranjak pulang. Atau barangkali, sang ibu tak jadi cerita sebab sibuk menjilati es krim yang digenggam sang anak meski sudah berbonceng di atas sepeda? Entahlah, aku tak bisa menerka.......


~Selepas shalat Ashar~ di Masjid_Unej
06 Oktober 2015

Tuesday, 6 October 2015

Ternyata, Masih Ada......



Sekalipun kau tak bercakap denganku,
aku bahagia mendengar sapamu dalam aksara

kalau begitu, teruslah seperti itu..
agar ku tahu, kau ada dan tak mati tertelan perubahan waktu

Saturday, 3 October 2015

Hanya Namamu,



Namamu, Fa yang selalu kusebut..
bukan lagi tiga bintang yang membentuk sabuk orion
bukan pula, bintang yang paling terang milikmu
melainkan namamu, Fa yang selalu menjadi dzikir dalam setiap waktu…

Kau tau, Fa….
hanya namamu yang bisa membuatku tersenyum sekaligus menangis dalam nestapa

Friday, 2 October 2015

Siapa keduanya????



Fatka, hanyalah sebuah nama yang saya ciptakan untuk berdamping dengan Ehar. Jujur saja saya tak pernah kenal keduanya. Tak kenal pula rupa mereka. Tetapi cerita keduanya selalu mengalir dalam hidup saya. Melahirkan rangkaian cerita yang saya ciptakan sendiri.

Terkadang saya tersenyum mengingat kisah mereka. Terkadang pula saya menangis haru mengenangnya. Seakan sayalah lakon utama dalam cerita yang saya buat.

Ah, sulit sekali mengatakan cerita tadi fiktif atau nyata. Meski sayalah pencipta skenario keduanya, tetapi saya bukan aktor nyata.

Barangkali saya juga harus mengakui, beberapa cerita yang saya karang terkadang berangkat dari apa yang saya alami, tetapi saya bukanlah Fatka apalagi Ehar. Saya hanyalah Hant_k. itu saja. Bukan keduanya. Tetapi mereka ada di dalam bagian hidup saya….

Salam, Ehar_Fatka
Sebuah tokoh dalam lakon cerita yang akan rampung

Thursday, 1 October 2015

Purnama Kita, Fa....



Tak ada yang istimewa di malam ini, Fa..
hanya purnama yang tak lagi mampu berkata
berhasil menengok kelopak mataku yang tercecer iba
sedangkan rerimbun bambu di samping pekarangan
masih mengayun merdu halangi bias purnama

Kau tau, Fa..
aku teringat senyummu di perantauan dulu
menikmati sajian langit malam
kita duduk berdua merancang mimpi memandang gemerlap bintang
terkadang, secuil cerita masa lalu menyumpil diantara riuhnya impian

Ah, sayang Fa..
seribu hari semenjak kita berdendang mimpi
aku tak lagi mampu melihat senyummu melalui purnama
seakan hilang tanpa pamit
kau tak lagi hadir bertanya sapa
Terkadang kobaran api di dalam dada membara, Fa
tatkala berbagai lembar catatan kita berhasil ku baca
terkadang pula, riuh air mata berkumpul sesak di ujung mata
sesaat ku tersadar, kau tak lagi ada

Kalaulah ini maumu, Fa..
aku tak memaksa.
do’aku terus mengemis pada Tuhan
meminta menjagamu dari buas kehidupan
Tapi kau harus tau...
melepasmu bukan berarti melupakanmu
segenap waktu dalam diriku, tak pernah sedetikpun melepasmu dari ingatan.
sapalah daku kalau kau butuh, Fa...
Sapalah jiwaku kapan kau mau, Fa...
meski sekali di akhir sisa waktu, tak apa!
setidaknya, sapamu berhasil membasahi hati yang kering akan cinta.

tetapi, Fa...
kalaulah kau tak lagi butuh,
tak lagi mau menyapa meski satu kata,
biarlah purnama yang mengingat sumpahku...
aku hanya tak sanggup memanggul air mata
saat ku tau, kau membuang kisah kita tanpa pamit
itu saja, Fa...
ya, itu saja...
aku hanya tak sanggup!!!!!!

kau tau, Fa???
malam ini, purnama datang tak bawa cerita....


Awal Oktober,
memandang langit pekarangan rumah

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...