Thursday, 1 October 2015

Purnama Kita, Fa....



Tak ada yang istimewa di malam ini, Fa..
hanya purnama yang tak lagi mampu berkata
berhasil menengok kelopak mataku yang tercecer iba
sedangkan rerimbun bambu di samping pekarangan
masih mengayun merdu halangi bias purnama

Kau tau, Fa..
aku teringat senyummu di perantauan dulu
menikmati sajian langit malam
kita duduk berdua merancang mimpi memandang gemerlap bintang
terkadang, secuil cerita masa lalu menyumpil diantara riuhnya impian

Ah, sayang Fa..
seribu hari semenjak kita berdendang mimpi
aku tak lagi mampu melihat senyummu melalui purnama
seakan hilang tanpa pamit
kau tak lagi hadir bertanya sapa
Terkadang kobaran api di dalam dada membara, Fa
tatkala berbagai lembar catatan kita berhasil ku baca
terkadang pula, riuh air mata berkumpul sesak di ujung mata
sesaat ku tersadar, kau tak lagi ada

Kalaulah ini maumu, Fa..
aku tak memaksa.
do’aku terus mengemis pada Tuhan
meminta menjagamu dari buas kehidupan
Tapi kau harus tau...
melepasmu bukan berarti melupakanmu
segenap waktu dalam diriku, tak pernah sedetikpun melepasmu dari ingatan.
sapalah daku kalau kau butuh, Fa...
Sapalah jiwaku kapan kau mau, Fa...
meski sekali di akhir sisa waktu, tak apa!
setidaknya, sapamu berhasil membasahi hati yang kering akan cinta.

tetapi, Fa...
kalaulah kau tak lagi butuh,
tak lagi mau menyapa meski satu kata,
biarlah purnama yang mengingat sumpahku...
aku hanya tak sanggup memanggul air mata
saat ku tau, kau membuang kisah kita tanpa pamit
itu saja, Fa...
ya, itu saja...
aku hanya tak sanggup!!!!!!

kau tau, Fa???
malam ini, purnama datang tak bawa cerita....


Awal Oktober,
memandang langit pekarangan rumah

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...