Nyatanya,
kemiskinan masih ada. Dimanta-mana pula. Entah miskin harta atau miskin moral.
Seperti para koruptor yang sibuk melambaikan tangan.
Tetapi,
ceritaku di sore ini bukan tentang koruptor. Bukan pula lakon para pengendara
motor di perempatan lampu merah. Melainkan sebuah potret kecil dari rakyat
kecil macamku ini.
Begini
ceritanya.....
Beberapa
menit yang lalu, saat mengantri premium di pom bensin Wirolegi, ada seorang
anak kecil bersama seorang ibu yang berdiri di dekat sepeda. Awalnya aku tak
menyadari keberadaan keduanya. Lambat laun mataku terperangah melihat kesibukan
ibu dan anak ini.
Kau
tau, sang anak yang kutaksir usianya sekitar empat tahun-an ini sedang asyik
menikmati es krim yang baru dibeli dari Indomaret –ini ku tahu dari bungkus
plastik yang dipegang sang ibu. Sementara di sebelahnya, sang ibu turut sibuk
pula. Dan ini, ya, kesibukan ini yang membuatku menahan pandangan.
Rupanya
sang ibu turut menikmati es krim merek conetto
tadi dengan menjilati bungkusan yang ia buka beberapa waktu lalu. Ai, lama
benar ia menjilatinya. Berkali-kali pula. Seakan ia tak rela kalau ada sisa
coklat di ujung bungkusan tadi. Dan parahnya, mereka sberdua berdiri di tengah
jalan, diantara antrian motor dan mobil. Kontan saja banyak orang yang melihat
aksi keduanya.
Begitupun
aku yang berada di belakang mereka. Merasa terus menerus dipandangi, serta
menyadari pandanganku yang tak berubah, sang ibu menarik lengan sang anak.
Berteduh di bawah pohon. Jujur saja, bukan rasa es krim tadi yang menggiurkan
lidahku sehingga memandangi mereka lebih lama-meski sedikit kuakui, aku
menginginkannya pula. Tetapi, perangai sang ibu penyebabnya. Terbukti, sampai
mereka berdua duduk di bawah pohon, sang ibu masih belum melepas pandangannya.
Masih terus menatap lekat sang anak yang terus menjilati es krim dengan
perasaan takut meleleh. Dan sekali-kali pula, sang ibu menarik lengan sang
anak. Turut menjilati es krim tadi.
Kau
tau kawan, sesaat pandanganku bertabrakan dengan mata sang ibu, ada satu bahasa
yang berhasil disampaikan. Ya, apalagi kalau bukan susahnya menjalani
hidup..Aku berhasil membaca bahasa sang ibu yang baru selesai bekerja menjadi
kuli di gudang tembakau ini. Mata sang ibu menyampaikan kalaulah harga satu es
krim tadi sejatinya mampu dibelikan sekilogram beras untuk sekeluarga. Tetapi,
ya, inilah hidup. Teramat susah.
Sebenarnya,
mata sang ibu menyiratkan suatu permintaan untuk mendengarkan cerita sekaligus
beban hidupnya padaku. Tetapi keburu pergi. Barangkali, sang ibu tak jadi
bercerita sebab sang suami telah selesai membeli premium dan beranjak pulang.
Atau barangkali, sang ibu tak jadi cerita sebab sibuk menjilati es krim yang
digenggam sang anak meski sudah berbonceng di atas sepeda? Entahlah, aku tak
bisa menerka.......
~Selepas shalat Ashar~ di Masjid_Unej
06 Oktober 2015

No comments:
Post a Comment