Thursday, 22 October 2015

Sajak Tanpa Muara



Aku bahagia mendapatimu dalam mimpi semalam
Meski berjumpa dalam lipatan detik
Aku masih bisa memanggil namamu, Fa seperti dulu
Dan kau menoleh lalu tersenyum,
Persis adegan di pulau rantau

Sebenarnya, Fa
Aku jauh menginginkan sapamu bukan di alam mimpi



20 Oktober 2015, 21.07
dalam temaram pekarangan, aku berhasil membawamu dalam sebuah cerita

Tuesday, 20 October 2015

Catatan Di Senjakala



Kau tau, Ka, sore ini aku menunggu senja seperti biasa. Sudah lama aku tak menikmati sekaligus bercakap dengannya. Kalau sekedar menyapa, tentu beberapa kali tetap menjadi rutinitas harian. Bukan kesibukan yang membuatku demikian. Bukan pula, rasa malas yang membuatku lupa. Atau, jangan-jangan memang sengaja tak menyempatkan diri. Entahlah, Ka, terkadang aku juga tak bisa memahami keadaanku sendiri.
Jujur saja, melihat kehidupan dari segi berbeda seperti sore ini, membuatku ingin bercerita manja denganmu. Seperti menikmati senja di perantauan dulu, kita duduk di belakang Geserna menyapa senja. Terkadang, kita abadikan senja tadi dengan beberapa gambar. Tepatnya, posemu dengan senja.
Hey, Ka, kau tau... gemuruh kereta terdengar lagi. Bukankah, dalam suratku yang terdahulu, sudah kuceritakan kalaulah emperan masjid yang kutapaki saat ini, bersebelahan dengan rel kereta sekaligus dengan stasiunnya? Ah, sudahlah. Barangkali kau lupa. Mengingat, kau sendiri sangat sibuk sampai lupa menyapaku beberapa bulan ini.
Mungkin, kau menganggapku aneh. Saat yang lain tertawa di khlalayak ramai, sedangkan aku duduk menyendiri menunggu senja datang di emperan masjid depan alun-alun kota. Lagi-lagi, seperti di perantauan dulu, saat kau tertawa ria bersama saudara dan teman-temanmu, dan aku berdiri di atas karang menyapa deburan ombak yang memanjakan mata. Sendiri. Pastilah kau tak lupa hari itu, Ka, mengingat, kau marah padaku sebab ombak semakin kencang dan meninggi sedangkan aku masih berdiri tak hiraukan ocehanmu. Ya, itulah aku, Ka. Begitulah caraku menikmati hidup. Seperti minum kopi, jangan langsung diteguk melainkan seduhlah lalu teguk perlahan-lahan. Sambil lalu merenungi kehidupan sekaligus mengingat kenangan. Pastilah kopi tadi akan terasa lebih nikmat.
Owh, iya, Ka, kesibukan di masjid ini masihlah sama. Anak-anak yang masih berusia 5-6 tahunan, berlalu lalang lepas belajar ngaji. Tetapi kali ini, ada satu yang berbeda. Ya, di musim kemarau yang cukup panjang menyapa bumi kelahiranku ini, banyak anak-anak berseliweran mengejar layangan putus. Meski sebentar bercengkerama dengan salah satunya, aku bahagia mendapatinya.
Seperti waktu kecil dulu, ibuku akan mengulang-ulang ceramahnya yang sama dan tak mungkin aku lupa: “Cepatlah pulang. Senja akan datang menguningkan usia. Lekas mandi, pergilah ngaji. Jangan biarkan kawan-kawanmu menunggu. Tak baik. Lebih baik kau yang menunggu”. Ah, selalu begitu omelan ibu.
Harus kuakui, Ka, setelah besar begini, aku rindu omelan ibu. Padahal, sewaktu kecil dulu, selalu tak kuindahkan. Dan pastinya, kawan-kawan ngajiku akan menunggu diiringi omelan ibu lebih lanjut.
Ah, Ka, senja mulai menyapa. Tubuhnya mulai menguning, dan mengajakku bicara. Beberapa layangan masih terbang melintas di depannya. Pun begitu dengan burung-burung, masih sama mengitari tubuhnya. Sedangkan alunan ayat suci dari masjid di pelosok-pelosok kampung, mulai terdengar alunannya.
Barangkali, dengan iring-iringan ayat suci ini, aku tak lagi mengatakan senja itu indah, Ka. Bias jingga yang mengitari tubuhnya, seakan pantulan keadaanku yang sangat miris. Ditambah lagi, ada satu layangan putus , terbaring jatuh mengikuti ayunan angin. Semua terasa melengkapi keadaanku saat ini. jujur saja, Ka. Semenjak kau tak lagi menyapa, tak lagi berkata, kepada senjalah aku bercerita. Terkadang ia memberi jawaban, dan terlalu sering menjadi pendengar setia.
Hampir saja buliran air mata ini, menyentuh pipi. Tentu kutahan sekuat mungkin. Aku tak mau menyapa senja dengan bilangan air mata, Ka. Biarlah ia hanya mendengar miris hidup yang kulakoni. Asala ia tak melihat air mata sebagai pertanda lemah. Biarkan saja, Tuhan yang mengintipnya. Terlampau baik senja selama ini menemaniku. Meski jarang aku tak bercengkerama, selalu saja ia  setia mendengar cerita hidupku.
Senja, hampir sempurna, Ka. Ah. Bukan. Tubuhnya terhalangi mendung di depannya. Sepertinya, ia tak tega melihatku yang begitu rapuh. Tak apa, lebih baik ia bersembunyi. Sudah cukup aku bercerita beberapa menit ini.
Kau tau, Ka?
senja terasa berbeda sebab kau tak lagi mau menyapa.....



16 Oktober 2015
~emperan masjid alun-alun kota~

Di Pantai Madura; Laut tak lagi asin


Di pantai Madura, ombak bungkam di matamu
Melukai jejak-jejak angin yang merenggut tadabbur ombak

Seberapa banyak malam yang kau tasbihkan pada bintang
Pada akhirnya bisu pada usia
Seberapa besar langkah kaki menderu
Berakhir dalam lipatan angin masa lalu

Tak perlu ada tangis apalagi air mata,
Ombak di pantai Madura masihlah sama
Menyanyikan luka yang sengaja kau kobarkan dalam dada

Cukuplah tertawa atas khianatmu
Barangkali aku lupa!
Kau tak lagi bisa menangis apalagi menelurkan air mata
Deburan ombak di pantai kampungmu
Mengubahmu menjadi manusia angkuh pelupa

Akan kusurati ombak di pekarangan rumahmu;

Selamat malam yang kau ucapkan
Tak lagi abadi dalam kenangan



17 Oktober 2015
~Sampoer~

At: 12.35

3 Bersaudara: Marsinah, Munir, Dan Salim Kancil





“Nek, katanya nenek mau cerita?”
“Owh, iya, Cu. Nenek lupa. Maklum, sudah tua”
“Ceritanya tentang apa, Nek? Farhat Abbas yang jadi tersangka atau ketua DPR yang kisruh gara-gara di Amerika?”
“Aduh, Cu. Nenek tidak tahu itu. Sudah, dengerin cerita nenek aja, tentang 3 bersaudara”
“Siapa mereka, Nek?”
“Mereka Marsinah, Munir dan Salim Kancil. Ketiganya bersudara. Marsinah dulu bekerja sebagai buruh di pabrik Sidoarjo. Dia aktivis yang memperjuangkan para buruh. Suka menyeru dan menuntut perusahaan untuk menaikkan upah tetapi tetap saja tak dinaikkan. Karena merasa sebagai orang berbahaya, dia dibunuh dan ditemukan di jurang. Proses pengadilannya berjalan curang. Pasal yang dituntut jaksa penuntut umum, bukan pasal yang harus dikenakan pada para pelaku. Karenanya mereka diputus bebas. Yang kedua, Munir. Dia aktivis yang juga pernah memperjuangkan kasus saudaranya, Marsinah. Dia pemberani bahkan mendapat beasiswa S2 ke Belanda dalam bidang hukum. Dia tidak pernah takut melawan orang jahat. Tetapi sayang, sewaktu dia menaiki pesawat untuk meneruskan s2 tadi, ia diracun orang tak bermoral. Sampai sekarang, aktor intelektual kejahatan tadi tidak ditemukan”
“Ambilkan air dulu, Cu. Nenek mau nafas sebentar”
“...........................................”
“Terus, Nek?”
“Yang ketiga, saudaranya yang baru lahir bulan kemarin. Dia Salim Kancil. Aktivis tambang di Lumajang. Ia menentang kepala desa dan antek-anteknya yang menambang pasir di pinggir pantai sampai-sampai air laut memasuki sawah orang-orang. Ia melawan sebab para petani merugi. Apalagi, tambang yang dilakukan itu ilegal. Dan parahnya, banyak warga yang memusuhi keberaniannya. Dan terpaksa, ia mengikuti jejak kedua saudaranya. Ia mati dikeroyok kades dan antek-anteknya. Semoga saja, POLRI bisa menangkap siapa dalangnya. Kalau semisal sang dalang BERUANG, ah, bisa ditebak jalan ceritanya. Sekalipun para pengeroyok ditangkap, tetap saja akhir kisahnya seperti kedua kakaknya.”
“Nenek Cuma berpesan, hati-hati loh. Kasus yang kakak pertamanya, Marsinah, sudah dibalas sama Tuhan. Lihat saja lumpur lapindo sekarang. Itu karma atas kasus buruh Marsinah. Apa iya, keteledoran manusia tidak bisa menghentikan semburan lumpur, katanya teknologi canggih? Itu hukuman Tuhan. Bukan yang lain”
“Kok, orang benar dibunuh, Nek?”
“Makanya, hati-hati, Cu hidup disini. Berani mencekal kejahatan, nyawa siap hilang”
“Kalo gitu, aku mau pake topeng Rahwana aja, Nek. Biar muka terlihat jahat, yang penting hati tak berpenyakit”
“?????????????”


16 Oktober 2015
~Sampoer~

Friday, 16 October 2015

Sekali-Kali, Ikutlah Mengantri



Salah satu dari sekian kesumpekan melihat jalanan, apalagi kalau bukan melihat iring-iringan. Seandainya yang melintas itu rombongan tentara yang sedang berlatih sambil mengumandangkan syair-syair pejuang, tentu saya terhibur. Atau, rombongan orang yang mau berangkat haji plus proses penjemputannya yang diiringi speaker-speaker lagu qasidah, tentu saya menatap mereka dengan haru sambil lalu berdo’a kapan kaki pelancong ini bisa menyentuh bumi Arab Saudi.

Tetapi yang ini, justru membuat saya ingin mengumpat tetapi ditahan. Ingin meluapkan marah tetapi hanya menggerutu. Ya, apalagi kalau bukan iring-iringan pejabat. Saya tak benci pejabatnya. Sama sekali tidak. Tentu saya berbangga diri melihat ada pejabat yang melintas di depan rumah sekalipun saya tak pernah tahu siapa pejabatnya dan di mobil urutan ke berapa.
Yang saya benci hanyalah persoalan proses memberi jalan yang dilakukan aparat. Seakan masyarakat kecil seperti saya ini, tak berhak juga melintasi jalan dan harus menepi memberi ruang pada pejabat tadi. Ai, malang betul nasib orang macam saya ini. Sudah susah pula mencari rezeki, susah pula menikmati jalan yang sudah kami setorkan uang pajak.
Dan yang membuat hati kian miris, lagi-lagi alasan yang digunakan para atasan tadi tetaplah sama yakni untuk efektivitas kerja sebab orang besar adalah orang sibuk. Banyak urusan begitu alasannya. Memangnya, orang kecil macam saya ini tak sibuk jua? Kami juga sibuk menanam padi di sawah. Juga sibuk mencari air sebab kemarau terlalu kuat mengunjungi tanah kelahiran kami. Saya rasa, kami dan para pejabat juga sama-sama memiliki kesibukan yang hanya dibedakan dengan jenis aktifitasnya. Ya, itu saja.
Kalaulah boleh saya memberi usul, sekali-kali ikutlah mengantri dengan pengendara lain. Sekalipun dijaga aparat dengan alasan keamanan, tak perlu lah dikoar-koar apalagi saat beberapa aparat yang memegangi tongkat bergerak ke arah masyarakat di pinggir jalan untuk segera menepi. Apabila kurang meminggir, tongkat tadi seakan berkata: “Awas, nanti aku pukul, kalo tak minggir”.
Seandainya bapak pejabat tadi ikut mengantri, tak perlu dengan kecepatan di atas 100/km, lalu jendela kaca dibuka sedikit, ah, senang betul rasanya. Lalu bapak/ibu pejabat tadi tersenyum sambil lalu melambaikan tangannya ke arah kami, pastilah kami akan merespon jauh lebih gembira. Kami akan tersenyum dan tertawa lebar beberapa waktu lamanya, dengan tangan yang melambai pula, sambil kami berteriak kencang: “Hey, Pak...Buk...”. atau kami yang berkumpul di pinggir jalan akan riuh sendiri dengan sesama tetangga, sambi berkata: “Itu, pak Mentrinya. itu”. “Mentri siapa?”. “Ah, ya, pokoknya pak menteri. Mboh wes”. Ah, paling mentri yang berani itu, yang menembak kapal orang asing”. “itu bukan pak mentri, itu buk menteri”. “owh, iya, hebat ya. Orangnya berani. Lulusan SMP katanya”. “itu baru mentri kerja namanya”. “Bukan mentri kerja, tapi KABINET KERJA”. “Owh, iya, ya. Hahahha”
Seandainya yang saya bayangkan itu sungguh-sungguh terjadi, ah, senang betul hati ini. Kalaulah masalah keamanan yang ditakutkan, dengan prioritas pasukan pengamanan pejabat bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kondisi pejabat, ya, kita kembali saja ke sila-1: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Hayo, sudah terhapus kah nilai-nilai pancasila tadi? Padahal, Bung Karno yang menggali nilai-nilai kita sejak zaman dulu, harus bertarung di wilayah pembuangannya. Lalu kenapa para atasan hanya memajang sila-1 tadi? Bukankah sudah ada yang menentukan skenario yang jauh lebih baik dibandingkan skenario manusia?


Jum’at, 16 Oktober 2015
~Sampoer~

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...