Tuesday, 20 October 2015

Di Pantai Madura; Laut tak lagi asin


Di pantai Madura, ombak bungkam di matamu
Melukai jejak-jejak angin yang merenggut tadabbur ombak

Seberapa banyak malam yang kau tasbihkan pada bintang
Pada akhirnya bisu pada usia
Seberapa besar langkah kaki menderu
Berakhir dalam lipatan angin masa lalu

Tak perlu ada tangis apalagi air mata,
Ombak di pantai Madura masihlah sama
Menyanyikan luka yang sengaja kau kobarkan dalam dada

Cukuplah tertawa atas khianatmu
Barangkali aku lupa!
Kau tak lagi bisa menangis apalagi menelurkan air mata
Deburan ombak di pantai kampungmu
Mengubahmu menjadi manusia angkuh pelupa

Akan kusurati ombak di pekarangan rumahmu;

Selamat malam yang kau ucapkan
Tak lagi abadi dalam kenangan



17 Oktober 2015
~Sampoer~

At: 12.35

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...