Tuesday, 20 October 2015

Catatan Di Senjakala



Kau tau, Ka, sore ini aku menunggu senja seperti biasa. Sudah lama aku tak menikmati sekaligus bercakap dengannya. Kalau sekedar menyapa, tentu beberapa kali tetap menjadi rutinitas harian. Bukan kesibukan yang membuatku demikian. Bukan pula, rasa malas yang membuatku lupa. Atau, jangan-jangan memang sengaja tak menyempatkan diri. Entahlah, Ka, terkadang aku juga tak bisa memahami keadaanku sendiri.
Jujur saja, melihat kehidupan dari segi berbeda seperti sore ini, membuatku ingin bercerita manja denganmu. Seperti menikmati senja di perantauan dulu, kita duduk di belakang Geserna menyapa senja. Terkadang, kita abadikan senja tadi dengan beberapa gambar. Tepatnya, posemu dengan senja.
Hey, Ka, kau tau... gemuruh kereta terdengar lagi. Bukankah, dalam suratku yang terdahulu, sudah kuceritakan kalaulah emperan masjid yang kutapaki saat ini, bersebelahan dengan rel kereta sekaligus dengan stasiunnya? Ah, sudahlah. Barangkali kau lupa. Mengingat, kau sendiri sangat sibuk sampai lupa menyapaku beberapa bulan ini.
Mungkin, kau menganggapku aneh. Saat yang lain tertawa di khlalayak ramai, sedangkan aku duduk menyendiri menunggu senja datang di emperan masjid depan alun-alun kota. Lagi-lagi, seperti di perantauan dulu, saat kau tertawa ria bersama saudara dan teman-temanmu, dan aku berdiri di atas karang menyapa deburan ombak yang memanjakan mata. Sendiri. Pastilah kau tak lupa hari itu, Ka, mengingat, kau marah padaku sebab ombak semakin kencang dan meninggi sedangkan aku masih berdiri tak hiraukan ocehanmu. Ya, itulah aku, Ka. Begitulah caraku menikmati hidup. Seperti minum kopi, jangan langsung diteguk melainkan seduhlah lalu teguk perlahan-lahan. Sambil lalu merenungi kehidupan sekaligus mengingat kenangan. Pastilah kopi tadi akan terasa lebih nikmat.
Owh, iya, Ka, kesibukan di masjid ini masihlah sama. Anak-anak yang masih berusia 5-6 tahunan, berlalu lalang lepas belajar ngaji. Tetapi kali ini, ada satu yang berbeda. Ya, di musim kemarau yang cukup panjang menyapa bumi kelahiranku ini, banyak anak-anak berseliweran mengejar layangan putus. Meski sebentar bercengkerama dengan salah satunya, aku bahagia mendapatinya.
Seperti waktu kecil dulu, ibuku akan mengulang-ulang ceramahnya yang sama dan tak mungkin aku lupa: “Cepatlah pulang. Senja akan datang menguningkan usia. Lekas mandi, pergilah ngaji. Jangan biarkan kawan-kawanmu menunggu. Tak baik. Lebih baik kau yang menunggu”. Ah, selalu begitu omelan ibu.
Harus kuakui, Ka, setelah besar begini, aku rindu omelan ibu. Padahal, sewaktu kecil dulu, selalu tak kuindahkan. Dan pastinya, kawan-kawan ngajiku akan menunggu diiringi omelan ibu lebih lanjut.
Ah, Ka, senja mulai menyapa. Tubuhnya mulai menguning, dan mengajakku bicara. Beberapa layangan masih terbang melintas di depannya. Pun begitu dengan burung-burung, masih sama mengitari tubuhnya. Sedangkan alunan ayat suci dari masjid di pelosok-pelosok kampung, mulai terdengar alunannya.
Barangkali, dengan iring-iringan ayat suci ini, aku tak lagi mengatakan senja itu indah, Ka. Bias jingga yang mengitari tubuhnya, seakan pantulan keadaanku yang sangat miris. Ditambah lagi, ada satu layangan putus , terbaring jatuh mengikuti ayunan angin. Semua terasa melengkapi keadaanku saat ini. jujur saja, Ka. Semenjak kau tak lagi menyapa, tak lagi berkata, kepada senjalah aku bercerita. Terkadang ia memberi jawaban, dan terlalu sering menjadi pendengar setia.
Hampir saja buliran air mata ini, menyentuh pipi. Tentu kutahan sekuat mungkin. Aku tak mau menyapa senja dengan bilangan air mata, Ka. Biarlah ia hanya mendengar miris hidup yang kulakoni. Asala ia tak melihat air mata sebagai pertanda lemah. Biarkan saja, Tuhan yang mengintipnya. Terlampau baik senja selama ini menemaniku. Meski jarang aku tak bercengkerama, selalu saja ia  setia mendengar cerita hidupku.
Senja, hampir sempurna, Ka. Ah. Bukan. Tubuhnya terhalangi mendung di depannya. Sepertinya, ia tak tega melihatku yang begitu rapuh. Tak apa, lebih baik ia bersembunyi. Sudah cukup aku bercerita beberapa menit ini.
Kau tau, Ka?
senja terasa berbeda sebab kau tak lagi mau menyapa.....



16 Oktober 2015
~emperan masjid alun-alun kota~

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...