Friday, 16 October 2015

Sekali-Kali, Ikutlah Mengantri



Salah satu dari sekian kesumpekan melihat jalanan, apalagi kalau bukan melihat iring-iringan. Seandainya yang melintas itu rombongan tentara yang sedang berlatih sambil mengumandangkan syair-syair pejuang, tentu saya terhibur. Atau, rombongan orang yang mau berangkat haji plus proses penjemputannya yang diiringi speaker-speaker lagu qasidah, tentu saya menatap mereka dengan haru sambil lalu berdo’a kapan kaki pelancong ini bisa menyentuh bumi Arab Saudi.

Tetapi yang ini, justru membuat saya ingin mengumpat tetapi ditahan. Ingin meluapkan marah tetapi hanya menggerutu. Ya, apalagi kalau bukan iring-iringan pejabat. Saya tak benci pejabatnya. Sama sekali tidak. Tentu saya berbangga diri melihat ada pejabat yang melintas di depan rumah sekalipun saya tak pernah tahu siapa pejabatnya dan di mobil urutan ke berapa.
Yang saya benci hanyalah persoalan proses memberi jalan yang dilakukan aparat. Seakan masyarakat kecil seperti saya ini, tak berhak juga melintasi jalan dan harus menepi memberi ruang pada pejabat tadi. Ai, malang betul nasib orang macam saya ini. Sudah susah pula mencari rezeki, susah pula menikmati jalan yang sudah kami setorkan uang pajak.
Dan yang membuat hati kian miris, lagi-lagi alasan yang digunakan para atasan tadi tetaplah sama yakni untuk efektivitas kerja sebab orang besar adalah orang sibuk. Banyak urusan begitu alasannya. Memangnya, orang kecil macam saya ini tak sibuk jua? Kami juga sibuk menanam padi di sawah. Juga sibuk mencari air sebab kemarau terlalu kuat mengunjungi tanah kelahiran kami. Saya rasa, kami dan para pejabat juga sama-sama memiliki kesibukan yang hanya dibedakan dengan jenis aktifitasnya. Ya, itu saja.
Kalaulah boleh saya memberi usul, sekali-kali ikutlah mengantri dengan pengendara lain. Sekalipun dijaga aparat dengan alasan keamanan, tak perlu lah dikoar-koar apalagi saat beberapa aparat yang memegangi tongkat bergerak ke arah masyarakat di pinggir jalan untuk segera menepi. Apabila kurang meminggir, tongkat tadi seakan berkata: “Awas, nanti aku pukul, kalo tak minggir”.
Seandainya bapak pejabat tadi ikut mengantri, tak perlu dengan kecepatan di atas 100/km, lalu jendela kaca dibuka sedikit, ah, senang betul rasanya. Lalu bapak/ibu pejabat tadi tersenyum sambil lalu melambaikan tangannya ke arah kami, pastilah kami akan merespon jauh lebih gembira. Kami akan tersenyum dan tertawa lebar beberapa waktu lamanya, dengan tangan yang melambai pula, sambil kami berteriak kencang: “Hey, Pak...Buk...”. atau kami yang berkumpul di pinggir jalan akan riuh sendiri dengan sesama tetangga, sambi berkata: “Itu, pak Mentrinya. itu”. “Mentri siapa?”. “Ah, ya, pokoknya pak menteri. Mboh wes”. Ah, paling mentri yang berani itu, yang menembak kapal orang asing”. “itu bukan pak mentri, itu buk menteri”. “owh, iya, hebat ya. Orangnya berani. Lulusan SMP katanya”. “itu baru mentri kerja namanya”. “Bukan mentri kerja, tapi KABINET KERJA”. “Owh, iya, ya. Hahahha”
Seandainya yang saya bayangkan itu sungguh-sungguh terjadi, ah, senang betul hati ini. Kalaulah masalah keamanan yang ditakutkan, dengan prioritas pasukan pengamanan pejabat bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kondisi pejabat, ya, kita kembali saja ke sila-1: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Hayo, sudah terhapus kah nilai-nilai pancasila tadi? Padahal, Bung Karno yang menggali nilai-nilai kita sejak zaman dulu, harus bertarung di wilayah pembuangannya. Lalu kenapa para atasan hanya memajang sila-1 tadi? Bukankah sudah ada yang menentukan skenario yang jauh lebih baik dibandingkan skenario manusia?


Jum’at, 16 Oktober 2015
~Sampoer~

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...