Tuesday, 20 October 2015

3 Bersaudara: Marsinah, Munir, Dan Salim Kancil





“Nek, katanya nenek mau cerita?”
“Owh, iya, Cu. Nenek lupa. Maklum, sudah tua”
“Ceritanya tentang apa, Nek? Farhat Abbas yang jadi tersangka atau ketua DPR yang kisruh gara-gara di Amerika?”
“Aduh, Cu. Nenek tidak tahu itu. Sudah, dengerin cerita nenek aja, tentang 3 bersaudara”
“Siapa mereka, Nek?”
“Mereka Marsinah, Munir dan Salim Kancil. Ketiganya bersudara. Marsinah dulu bekerja sebagai buruh di pabrik Sidoarjo. Dia aktivis yang memperjuangkan para buruh. Suka menyeru dan menuntut perusahaan untuk menaikkan upah tetapi tetap saja tak dinaikkan. Karena merasa sebagai orang berbahaya, dia dibunuh dan ditemukan di jurang. Proses pengadilannya berjalan curang. Pasal yang dituntut jaksa penuntut umum, bukan pasal yang harus dikenakan pada para pelaku. Karenanya mereka diputus bebas. Yang kedua, Munir. Dia aktivis yang juga pernah memperjuangkan kasus saudaranya, Marsinah. Dia pemberani bahkan mendapat beasiswa S2 ke Belanda dalam bidang hukum. Dia tidak pernah takut melawan orang jahat. Tetapi sayang, sewaktu dia menaiki pesawat untuk meneruskan s2 tadi, ia diracun orang tak bermoral. Sampai sekarang, aktor intelektual kejahatan tadi tidak ditemukan”
“Ambilkan air dulu, Cu. Nenek mau nafas sebentar”
“...........................................”
“Terus, Nek?”
“Yang ketiga, saudaranya yang baru lahir bulan kemarin. Dia Salim Kancil. Aktivis tambang di Lumajang. Ia menentang kepala desa dan antek-anteknya yang menambang pasir di pinggir pantai sampai-sampai air laut memasuki sawah orang-orang. Ia melawan sebab para petani merugi. Apalagi, tambang yang dilakukan itu ilegal. Dan parahnya, banyak warga yang memusuhi keberaniannya. Dan terpaksa, ia mengikuti jejak kedua saudaranya. Ia mati dikeroyok kades dan antek-anteknya. Semoga saja, POLRI bisa menangkap siapa dalangnya. Kalau semisal sang dalang BERUANG, ah, bisa ditebak jalan ceritanya. Sekalipun para pengeroyok ditangkap, tetap saja akhir kisahnya seperti kedua kakaknya.”
“Nenek Cuma berpesan, hati-hati loh. Kasus yang kakak pertamanya, Marsinah, sudah dibalas sama Tuhan. Lihat saja lumpur lapindo sekarang. Itu karma atas kasus buruh Marsinah. Apa iya, keteledoran manusia tidak bisa menghentikan semburan lumpur, katanya teknologi canggih? Itu hukuman Tuhan. Bukan yang lain”
“Kok, orang benar dibunuh, Nek?”
“Makanya, hati-hati, Cu hidup disini. Berani mencekal kejahatan, nyawa siap hilang”
“Kalo gitu, aku mau pake topeng Rahwana aja, Nek. Biar muka terlihat jahat, yang penting hati tak berpenyakit”
“?????????????”


16 Oktober 2015
~Sampoer~

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...