“Nek,
katanya nenek mau cerita?”
“Owh,
iya, Cu. Nenek lupa. Maklum, sudah tua”
“Ceritanya
tentang apa, Nek? Farhat Abbas yang jadi tersangka atau ketua DPR yang kisruh
gara-gara di Amerika?”
“Aduh,
Cu. Nenek tidak tahu itu. Sudah, dengerin cerita nenek aja, tentang 3
bersaudara”
“Siapa
mereka, Nek?”
“Mereka
Marsinah, Munir dan Salim Kancil. Ketiganya bersudara. Marsinah dulu bekerja
sebagai buruh di pabrik Sidoarjo. Dia aktivis yang memperjuangkan para buruh.
Suka menyeru dan menuntut perusahaan untuk menaikkan upah tetapi tetap saja tak
dinaikkan. Karena merasa sebagai orang berbahaya, dia dibunuh dan ditemukan di
jurang. Proses pengadilannya berjalan curang. Pasal yang dituntut jaksa
penuntut umum, bukan pasal yang harus dikenakan pada para pelaku. Karenanya
mereka diputus bebas. Yang kedua, Munir. Dia aktivis yang juga pernah memperjuangkan
kasus saudaranya, Marsinah. Dia pemberani bahkan mendapat beasiswa S2 ke
Belanda dalam bidang hukum. Dia tidak pernah takut melawan orang jahat. Tetapi
sayang, sewaktu dia menaiki pesawat untuk meneruskan s2 tadi, ia diracun orang
tak bermoral. Sampai sekarang, aktor intelektual kejahatan tadi tidak
ditemukan”
“Ambilkan
air dulu, Cu. Nenek mau nafas sebentar”
“...........................................”
“Terus,
Nek?”
“Yang
ketiga, saudaranya yang baru lahir bulan kemarin. Dia Salim Kancil. Aktivis tambang
di Lumajang. Ia menentang kepala desa dan antek-anteknya yang menambang pasir
di pinggir pantai sampai-sampai air laut memasuki sawah orang-orang. Ia melawan
sebab para petani merugi. Apalagi, tambang yang dilakukan itu ilegal. Dan
parahnya, banyak warga yang memusuhi keberaniannya. Dan terpaksa, ia mengikuti
jejak kedua saudaranya. Ia mati dikeroyok kades dan antek-anteknya. Semoga
saja, POLRI bisa menangkap siapa dalangnya. Kalau semisal sang dalang BERUANG,
ah, bisa ditebak jalan ceritanya. Sekalipun para pengeroyok ditangkap, tetap
saja akhir kisahnya seperti kedua kakaknya.”
“Nenek
Cuma berpesan, hati-hati loh. Kasus yang kakak pertamanya, Marsinah, sudah
dibalas sama Tuhan. Lihat saja lumpur lapindo sekarang. Itu karma atas kasus
buruh Marsinah. Apa iya, keteledoran manusia tidak bisa menghentikan semburan
lumpur, katanya teknologi canggih? Itu hukuman Tuhan. Bukan yang lain”
“Kok,
orang benar dibunuh, Nek?”
“Makanya,
hati-hati, Cu hidup disini. Berani mencekal kejahatan, nyawa siap hilang”
“Kalo
gitu, aku mau pake topeng Rahwana aja, Nek. Biar muka terlihat jahat, yang
penting hati tak berpenyakit”
“?????????????”
16 Oktober 2015
~Sampoer~

No comments:
Post a Comment