Saturday, 24 October 2015

Saya Dan Bapak Di Suatu Waktu



Kemaren sore saya tertawa sendiri, tatkala melintasi seorang pengendara motor. Bukan apa-apa, tetapi saya memperhatikan mereka semenjak dari pom bensin. Mereka? Iya, mereka bertiga. Anda tau, sang pengendara yang saya taksir usianya 30-an, berwajah bingung nan takut. Ia tengah membonceng kedua anaknya. Sepertinya begitu. Dan kedua balita tadi, berada di depan sepeda dengan model tanki di depan. Dan anda tau, salah satu dari balita tadi tertidur. Sang balita laki-laki yang berada ditengah, kepalanya oleng ke kanan melihat jalanan sambil menahan tubuh saudara perempuan di depannya, yang kepalanya juga ikut oleng ke kiri. Pastilah anda bisa menebak ekspresi sang bapak tadi, ia terus melajukan gas sepeda pelan sekali, dengan sekali-kali menunduk melihat kedua balitanya.
Dan saya, saya tertawa melihat ekspresi mereka bertiga. Satu di depan tengah tertidur pulas dengan kepala yang oleng, sedangkan balita yang dibelakangnya, menahan berat tubuh saudaranya dengan kepala yang diolengkan ke kanan melihat jalanan dan turut kebingungan pula.
Jujur saja, barangkali cerita tadi tak cukup menarik bagi anda. Saya hargai itu. Tetapi saya hanya ingin bercerita, kalaulah apa yang saya lihat kejadian kemaren sore, membuat saya teringat masa kecil.
Dulu, sewaktu saya diajak bapak dengan mengendarai sepeda tuanya untuk mengunjungi paman dan nenek yang rumahnya dekat dengan lereng gunung, saya dibonceng di belakang dengan nasehat yang selalu diwanti-wanti setiap saat: “Pegangan yang kuat. Sandalmu juga, kalau kau tak mengapitnya, sandalmu akan jatuh. Dan kau takkan punya sandal lagi”
Jadilah sepanjang perjalanan, tangan saya melingkari tubuh bapak dan jemari kaki yang mengapit kuat tali sandal supaya tak jatuh. Ai, malang betul pekerjaan saya waktu itu. Andai saja bapak melaju agak cepat dan jarak yang ditempuh tak terlalu jauh, barangkali saya akan sedikit gembira. Bayangkan saja, selama 10-15 menit, saya berada di posisi demikian. Tak jarang selepas tiba di rumah nenek atau selepas pulang dan turun dari sepeda, kaki saya tak langsung bisa digerakkan sebab kesemutan. Ya, bagaimana tidak, saya tidak hanya menahan jemari melainkan bagaimana kedua kaki saya tak banyak gerak, takut sandal saya jatuh dan nyekerlah saya nanti.
Tetapi, saya masih tetap bahagia dengan menoleh ke kanan kiri, melihat alam di sekeliling. Melihat sepasang gunung dengan hamparan padi di bawahnya. Dan, jangan anda berharap kalau langit malam mulai menyapa, saya akan tetap sebahagia itu. Saya akan mendekap tubuh bapak sekuat-kuatnya, dengan posisi kaki yang kaku dan tak banyak gerak, dan kepala yang tak menoleh ke kanan ataupun ke kiri. Melainkan ke satu arah. Ikut mendekap punggung bapak dengan mata terpejam. Entah mengapa, cerita teman-teman saya mengenai bentuk pocong, kuntilanak yang punggungnya berlubang, selalu mengintai pikiran saya tatkala berada di kegelapan.
Dan saat itulah, bapak justru bercakap lebih keras: “Tak perlu ada yang kau takutkan. Jadilah orang pemberani bukan penakut. Tak ada gunanya. Cukuplah takut pada Tuhan. Takutlah kalau kau berbuat salah”
Ah, sudah badan panas dingin dengan jalan yang sunyi tanpa rumah penduduk, dan bapak menasehati saya dengan entengnya. Hemmm.....begitulah bapak dan beginilah saya.
Terkadang saya tertawa sendiri mengingatnya. Sampai akhirnya, saya mengerti, tak perlu ada yang ditakutkan selama kita berbuat benar. Bukan benar sendiri. heheeee....



23 Oktober 2015

Do’aku di Seberang Pulau




Segeliat resah menyeru pada Tuhan
“Benarkah berita yang kuterima barusan?”

Ribuan tanda tanya terpatri di langit ketujuh
Begitu mudahnya izro’il menenteng jiwa menuju pangkuanNya
Bak jemari bayi menggenggam botol susu

Selamat jalan kawan!
Aku dengan lainnya
Tak lama lagi Kan menyusulmu……….



Jember, Ahad 18 September 2013 (22.00)
Sesaat setelah menerima kabar kematian seorang kawan
di ujung pulau garam (Tanah Rantau)

Sapamu




 Tuhan sungguh baik, sayang
baru semalam Ia berikan setetes hujan
sapa bumi meski tersadar subuh pergi
kau tau, sayang?
ada kenistaan saat deretan huruf terpajang di alam pagi
teramat hati-hati, kueja deretan huruf tadi
bayangkan simpul tawamu mengikat lewat lintas embun
lagi-lagi, nestapa di akhir bahagia
menenteng jiwa tamakku pada Tuhan

Bukankah Ia teramat baik lewat sapamu
yang telah berpuasa Delapan Puluh Lima hari?
dan aku, masih terus menagih dan mencaci

kau teramat berubah,
telah berubah
menjelma bilangan angin yang menguningkan usia
tanpa izin empu jiwa

harusnya kuterima satu sapamu dengan tulus
setulus kuberikan nafas pada waktu



24 Oktober 2015
08.35

“Satu sapa yang membuatku bersyukur sekaligus kufur”

Revisi UU KPK atau UU Korupsi?




 

Saya tidak begitu mengerti, gerangan apa yang membuat KPK selalu menjadi pusat perhatian para penguasa. Ya, menurut taksiran saya, apalagi kalau bukan lembaganya yang bertugas menindak koruptor sedangkan korupsi saat ini, sudah menjelma beranak pinak.

Berubah





Nanar mataku tak pernah berubah
Selalu sembilu melihat bayangmu yang terus mencumbu waktu
Andai hari esok yakin masih ada
 Aku tak pernah berhenti berceloteh
Pada kalender lusuh..

Padanya angka memanglah pudar, tapi tak ada yang abadi selain kenangan
Ya, Tepat aku memelukmu erat, deru langkah kaki lalu lambaian tangan
Adalah masa yang selalu berhasil sembunyi dalam lipatan ingatan.

Tepat pula saat aku ingin lupa
Selalu saja senja menjemput adzan Maghrib menyeretku dalam kesunyian.
Memaksaku haturkan sapa lewat kenangan,
Padamu yang telah berubah kehangatan........




Emperan Kampung Kelahiran, 03 Mei 2015
22.43

Thursday, 22 October 2015

Untuk Negeriku Yang Aneh Dan Semakin Aneh





Kau tau, negeriku. Aku belajar mencintaimu dari seorang bapak yang tak pernah mengenal lelah menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat tertinggi.

Aku belajar mengenalmu lewat guru, lewat buku, yang selalu berbicara “Kita hidup di negeri khatulistiwa. Andai tongkat ditanam, niscaya ia akan menjelma menjadi sebatang pohon tangguh”. Alangkah kagumnya pikiranku saat itu, saat buku dan guru-guruku menyebut namamu dengan bangga.  Sekali-kali pikiranku singgah diantara penjelasan guru tadi, kepada untaian pulau yang selalu ingin kukunjungi.
Barangkali kau tak harus tau negeriku, sebab masih banyak orang yang jauh mencintaimu melebihi kekagumanku padamu. Tentu dengan cara dan alur cerita yang berbeda. Pernah suatu hari negeriku, bapak yang sewaktu menyemai tanaman padi, dan aku yang mengikuti di pematang sawah, memandang takjub dengan hamparan tanaman petani yang di ujung depannya sepasang bukit menjular lebat pepohonannya. Tetapi kami lebih sering menyebutnya sebagai “Gunung Sepikul”.
“Kau akan jauh lebih takjub, kalau kau berdiri di sana” telunjuk bapak menuju ke ujung gunung sebelah timur.  Sedangkan mataku yang terperangah mendengar ucapan bapak, berhasil menyiratkan segaris ketakutan di dalam binar mata.
“Kau lahir sendiri. Mati pun sendiri. Belajarlah hidup sendiri”
Aku tak berani mengiyakan ungkapan bapak. Bagiku, cerita pertemuan orang-orang dengan ular yang berukuran besar, telah berhasil membuat takut anak usia 9 tahunan sepertiku.
Dan hingga hari yang kuimpikan itu tiba. Aku berhasil berdiri di ujung gunung tanpa rasa takut. Mataku menatap takjub jalanan yang terlihat luas dari kuamati di depan rumah, ternyata hanya tampak segaris hitam di dalam kubangan. Lalu pepohonan yang berdiri lebat nan menghijau, terlihat begitu anggun di belakang gunung. Ah, indah betul saat itu. Mengingat, tatkala kukumpulkan suara lalu kuteriak sekencang mungkin, mendadak suaraku memantul dan bergaung.
Ah, sayang, negeriku. Kebesaran yang kulihat dan kukagumi sewaktu kecil dulu, kini berubah beringas secara perlahan. Kudapati dirimu kini mulai berubah. Bangsa yang terkenal ramah, mudah senyum, selalu mengucapkan permisi dan mengangguk saat melintas, kini menjelma sebagai sosok yang mudah tersulut emosi, penjarah, pembunuh, pemerkosa, bahkan pencuri jahanam uang rakyat.
Lantas, kemanakah identitas bangsa yang bapak dan guruku kenalkan? Akankah ia telah hilang tertelan tsunami Aceh? Entahlah, yang terasa kini negeriku terus berubah. Berubah lebih beringas dan  semakin tamak pada kekuasaan.......


20 Oktober 2015

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...