Saturday, 24 October 2015

Berubah





Nanar mataku tak pernah berubah
Selalu sembilu melihat bayangmu yang terus mencumbu waktu
Andai hari esok yakin masih ada
 Aku tak pernah berhenti berceloteh
Pada kalender lusuh..

Padanya angka memanglah pudar, tapi tak ada yang abadi selain kenangan
Ya, Tepat aku memelukmu erat, deru langkah kaki lalu lambaian tangan
Adalah masa yang selalu berhasil sembunyi dalam lipatan ingatan.

Tepat pula saat aku ingin lupa
Selalu saja senja menjemput adzan Maghrib menyeretku dalam kesunyian.
Memaksaku haturkan sapa lewat kenangan,
Padamu yang telah berubah kehangatan........




Emperan Kampung Kelahiran, 03 Mei 2015
22.43

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...