Saturday, 24 October 2015

Sapamu




 Tuhan sungguh baik, sayang
baru semalam Ia berikan setetes hujan
sapa bumi meski tersadar subuh pergi
kau tau, sayang?
ada kenistaan saat deretan huruf terpajang di alam pagi
teramat hati-hati, kueja deretan huruf tadi
bayangkan simpul tawamu mengikat lewat lintas embun
lagi-lagi, nestapa di akhir bahagia
menenteng jiwa tamakku pada Tuhan

Bukankah Ia teramat baik lewat sapamu
yang telah berpuasa Delapan Puluh Lima hari?
dan aku, masih terus menagih dan mencaci

kau teramat berubah,
telah berubah
menjelma bilangan angin yang menguningkan usia
tanpa izin empu jiwa

harusnya kuterima satu sapamu dengan tulus
setulus kuberikan nafas pada waktu



24 Oktober 2015
08.35

“Satu sapa yang membuatku bersyukur sekaligus kufur”

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...