Tuhan sungguh baik, sayang
baru semalam Ia berikan setetes hujan
sapa bumi meski tersadar subuh pergi
baru semalam Ia berikan setetes hujan
sapa bumi meski tersadar subuh pergi
kau tau, sayang?
ada kenistaan saat deretan huruf terpajang di alam pagi
teramat hati-hati, kueja deretan huruf tadi
bayangkan simpul tawamu mengikat lewat lintas embun
ada kenistaan saat deretan huruf terpajang di alam pagi
teramat hati-hati, kueja deretan huruf tadi
bayangkan simpul tawamu mengikat lewat lintas embun
lagi-lagi, nestapa di akhir bahagia
menenteng jiwa tamakku pada Tuhan
Bukankah Ia teramat baik lewat sapamu
yang telah berpuasa Delapan Puluh Lima hari?
dan aku, masih terus menagih dan mencaci
kau teramat berubah,
telah berubah
menjelma bilangan angin yang menguningkan usia
tanpa izin empu jiwa
harusnya kuterima satu sapamu dengan tulus
setulus kuberikan nafas pada waktu
menenteng jiwa tamakku pada Tuhan
Bukankah Ia teramat baik lewat sapamu
yang telah berpuasa Delapan Puluh Lima hari?
dan aku, masih terus menagih dan mencaci
kau teramat berubah,
telah berubah
menjelma bilangan angin yang menguningkan usia
tanpa izin empu jiwa
harusnya kuterima satu sapamu dengan tulus
setulus kuberikan nafas pada waktu
24 Oktober 2015
08.35
08.35
“Satu sapa yang membuatku bersyukur sekaligus kufur”
No comments:
Post a Comment