Kemaren
sore saya tertawa sendiri, tatkala melintasi seorang pengendara motor. Bukan
apa-apa, tetapi saya memperhatikan mereka semenjak dari pom bensin. Mereka?
Iya, mereka bertiga. Anda tau, sang pengendara yang saya taksir usianya 30-an,
berwajah bingung nan takut. Ia tengah membonceng kedua anaknya. Sepertinya
begitu. Dan kedua balita tadi, berada di depan sepeda dengan model tanki di
depan. Dan anda tau, salah satu dari balita tadi tertidur. Sang balita
laki-laki yang berada ditengah, kepalanya oleng ke kanan melihat jalanan sambil
menahan tubuh saudara perempuan di depannya, yang kepalanya juga ikut oleng ke
kiri. Pastilah anda bisa menebak ekspresi sang bapak tadi, ia terus melajukan
gas sepeda pelan sekali, dengan sekali-kali menunduk melihat kedua balitanya.
Dan
saya, saya tertawa melihat ekspresi mereka bertiga. Satu di depan tengah
tertidur pulas dengan kepala yang oleng, sedangkan balita yang dibelakangnya,
menahan berat tubuh saudaranya dengan kepala yang diolengkan ke kanan melihat
jalanan dan turut kebingungan pula.
Jujur
saja, barangkali cerita tadi tak cukup menarik bagi anda. Saya hargai itu.
Tetapi saya hanya ingin bercerita, kalaulah apa yang saya lihat kejadian
kemaren sore, membuat saya teringat masa kecil.
Dulu,
sewaktu saya diajak bapak dengan mengendarai sepeda tuanya untuk mengunjungi
paman dan nenek yang rumahnya dekat dengan lereng gunung, saya dibonceng di
belakang dengan nasehat yang selalu diwanti-wanti setiap saat: “Pegangan yang
kuat. Sandalmu juga, kalau kau tak mengapitnya, sandalmu akan jatuh. Dan kau
takkan punya sandal lagi”
Jadilah
sepanjang perjalanan, tangan saya melingkari tubuh bapak dan jemari kaki yang
mengapit kuat tali sandal supaya tak jatuh. Ai, malang betul pekerjaan saya
waktu itu. Andai saja bapak melaju agak cepat dan jarak yang ditempuh tak
terlalu jauh, barangkali saya akan sedikit gembira. Bayangkan saja, selama
10-15 menit, saya berada di posisi demikian. Tak jarang selepas tiba di rumah
nenek atau selepas pulang dan turun dari sepeda, kaki saya tak langsung bisa
digerakkan sebab kesemutan. Ya, bagaimana tidak, saya tidak hanya menahan
jemari melainkan bagaimana kedua kaki saya tak banyak gerak, takut sandal saya
jatuh dan nyekerlah saya nanti.
Tetapi,
saya masih tetap bahagia dengan menoleh ke kanan kiri, melihat alam di
sekeliling. Melihat sepasang gunung dengan hamparan padi di bawahnya. Dan,
jangan anda berharap kalau langit malam mulai menyapa, saya akan tetap
sebahagia itu. Saya akan mendekap tubuh bapak sekuat-kuatnya, dengan posisi
kaki yang kaku dan tak banyak gerak, dan kepala yang tak menoleh ke kanan
ataupun ke kiri. Melainkan ke satu arah. Ikut mendekap punggung bapak dengan
mata terpejam. Entah mengapa, cerita teman-teman saya mengenai bentuk pocong,
kuntilanak yang punggungnya berlubang, selalu mengintai pikiran saya tatkala
berada di kegelapan.
Dan
saat itulah, bapak justru bercakap lebih keras: “Tak perlu ada yang kau
takutkan. Jadilah orang pemberani bukan penakut. Tak ada gunanya. Cukuplah
takut pada Tuhan. Takutlah kalau kau berbuat salah”
Ah,
sudah badan panas dingin dengan jalan yang sunyi tanpa rumah penduduk, dan
bapak menasehati saya dengan entengnya. Hemmm.....begitulah bapak dan beginilah
saya.
Terkadang
saya tertawa sendiri mengingatnya. Sampai akhirnya, saya mengerti, tak perlu
ada yang ditakutkan selama kita berbuat benar. Bukan benar sendiri. heheeee....
23
Oktober 2015

No comments:
Post a Comment