Saturday, 24 October 2015

Revisi UU KPK atau UU Korupsi?




 

Saya tidak begitu mengerti, gerangan apa yang membuat KPK selalu menjadi pusat perhatian para penguasa. Ya, menurut taksiran saya, apalagi kalau bukan lembaganya yang bertugas menindak koruptor sedangkan korupsi saat ini, sudah menjelma beranak pinak.

Hemmm......di satu sisi saya perhatikan usulan revisi UU KPK. Saya juga tidak terlalu paham dengan usulan ini. Bukannya apa, hukum itu selalu bersanding dengan politik. Dan kalau politik yang berbicara, wah, tentu anda sudah bisa menebak alur cerita saya. Hahahha.........
Di satu sisi, ada dukungan merivisi UU KPK. Tetapi di sisi lain, ada penolakan dengan indikasi pelemahan KPK. Wah,wah, wah....... sungguh hebat negeri yang saya kagumi ini.
Kalau anda bertanya pendapat saya mengenai ini, tentu saya akan jawab : “Perkuat lembaga KPK tanpa menjadi super lembaga yang tidak diawasi. Tetaplah dibentuk badan pengawas tetapi perlulah diberikan kebebasan pada KPK”
Apa, iya, saat ada indikasi ada korupsi, saat membutuhkan penyadapan, harus minta izin ini, izin itu. Alamat sudah. Tangkap tangan tidak akan terjadi. Kenapa? Bisa saja yang terindikasi melakukan korupsi adalah rekan sejawatnya dalam politik. Lalu ia tidak memberikan izin penyadapan.
Haduh, negeri ini sungguh kacau. Ada pendekar melawan kejahatan, eh, penjahatnya dilindungi tameng besi.
Kalaulah orang kecil macam saya ini boleh memberi usul, mbok yo, jangan UU KPK seng diuber-uber revisi. Cobalah anggota dewan dan pemerintah menguber-uber UU Korupsi.  Jangan tunjangan melulu yang diminta. Malu pada kami, yang hidup serba kekurangan. Misalnya begini, bagi para koruptor yang terbukti korupsi di atas 1 Triliun, dihukum mati. Wuih, saya jamin semua rakyat kecil macam saya pasti bahagia sebahagia hari raya Idul Fitri. Lalu, yang diatas 1 Milyar, dihukum penjara seumur hidup tanpa remisi. Wah, pasti rakyat akan sukarela menyaksikan siaran televisi meski muter-muter ujung antena.
Ya, ya... itu hanya sekedar lamunan saya pagi ini saja. Tentu, tak ada salahnya orang membayangkan sesuatu. Siapa tahu, Tuhan yang selalu berada di dekat hambaNya, berkenan mengabulkan lamunan saya ini. Dan seandainya benar-benar terwujud, lalu ada seorang yang berpakaian lengkap dengan senjata apinya mendatangi rumah, saya akan menjawab begini:
“Loh, salah saya apa toh? Itu kan Cuma lamunan saya. Terserah saya mau ngelamunin apa. Kalau semisal lamunan saya teruwujud, ya, jangan saya yang disalahkan. Tanya saja pada Tuhan, kenapa Ia mengabulkan lamunan saya? Atau, jangan-jangan, Tuhan juga bosan melihat rakyat kecil macam saya selalu ditipu penguasa”

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...