Saya tidak begitu mengerti, gerangan apa yang membuat KPK selalu menjadi pusat perhatian para penguasa. Ya, menurut taksiran saya, apalagi kalau bukan lembaganya yang bertugas menindak koruptor sedangkan korupsi saat ini, sudah menjelma beranak pinak.
Hemmm......di
satu sisi saya perhatikan usulan revisi UU KPK. Saya juga tidak terlalu paham
dengan usulan ini. Bukannya apa, hukum itu selalu bersanding dengan politik.
Dan kalau politik yang berbicara, wah, tentu anda sudah bisa menebak alur
cerita saya. Hahahha.........
Di
satu sisi, ada dukungan merivisi UU KPK. Tetapi di sisi lain, ada penolakan
dengan indikasi pelemahan KPK. Wah,wah, wah....... sungguh hebat negeri yang
saya kagumi ini.
Kalau
anda bertanya pendapat saya mengenai ini, tentu saya akan jawab : “Perkuat lembaga
KPK tanpa menjadi super lembaga yang tidak diawasi. Tetaplah dibentuk badan
pengawas tetapi perlulah diberikan kebebasan pada KPK”
Apa,
iya, saat ada indikasi ada korupsi, saat membutuhkan penyadapan, harus minta
izin ini, izin itu. Alamat sudah. Tangkap tangan tidak akan terjadi. Kenapa?
Bisa saja yang terindikasi melakukan korupsi adalah rekan sejawatnya dalam
politik. Lalu ia tidak memberikan izin penyadapan.
Haduh,
negeri ini sungguh kacau. Ada pendekar melawan kejahatan, eh, penjahatnya
dilindungi tameng besi.
Kalaulah
orang kecil macam saya ini boleh memberi usul, mbok yo, jangan UU KPK seng
diuber-uber revisi. Cobalah anggota dewan dan pemerintah menguber-uber UU
Korupsi. Jangan tunjangan melulu yang
diminta. Malu pada kami, yang hidup serba kekurangan. Misalnya begini, bagi
para koruptor yang terbukti korupsi di atas 1 Triliun, dihukum mati. Wuih, saya
jamin semua rakyat kecil macam saya pasti bahagia sebahagia hari raya Idul
Fitri. Lalu, yang diatas 1 Milyar, dihukum penjara seumur hidup tanpa remisi.
Wah, pasti rakyat akan sukarela menyaksikan siaran televisi meski muter-muter
ujung antena.
Ya,
ya... itu hanya sekedar lamunan saya pagi ini saja. Tentu, tak ada salahnya
orang membayangkan sesuatu. Siapa tahu, Tuhan yang selalu berada di dekat hambaNya,
berkenan mengabulkan lamunan saya ini. Dan seandainya benar-benar terwujud,
lalu ada seorang yang berpakaian lengkap dengan senjata apinya mendatangi
rumah, saya akan menjawab begini:
“Loh,
salah saya apa toh? Itu kan Cuma lamunan saya. Terserah saya mau ngelamunin apa.
Kalau semisal lamunan saya teruwujud, ya, jangan saya yang disalahkan. Tanya
saja pada Tuhan, kenapa Ia mengabulkan lamunan saya? Atau, jangan-jangan, Tuhan
juga bosan melihat rakyat kecil macam saya selalu ditipu penguasa”

No comments:
Post a Comment