Kau tau, negeriku. Aku belajar mencintaimu dari seorang bapak yang tak pernah mengenal lelah menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat tertinggi.
Aku
belajar mengenalmu lewat guru, lewat buku, yang selalu berbicara “Kita hidup di
negeri khatulistiwa. Andai tongkat ditanam, niscaya ia akan menjelma menjadi
sebatang pohon tangguh”. Alangkah kagumnya pikiranku saat itu, saat buku dan
guru-guruku menyebut namamu dengan bangga.
Sekali-kali pikiranku singgah diantara penjelasan guru tadi, kepada
untaian pulau yang selalu ingin kukunjungi.
Barangkali
kau tak harus tau negeriku, sebab masih banyak orang yang jauh mencintaimu
melebihi kekagumanku padamu. Tentu dengan cara dan alur cerita yang berbeda.
Pernah suatu hari negeriku, bapak yang sewaktu menyemai tanaman padi, dan aku
yang mengikuti di pematang sawah, memandang takjub dengan hamparan tanaman
petani yang di ujung depannya sepasang bukit menjular lebat pepohonannya.
Tetapi kami lebih sering menyebutnya sebagai “Gunung Sepikul”.
“Kau
akan jauh lebih takjub, kalau kau berdiri di sana” telunjuk bapak menuju ke
ujung gunung sebelah timur. Sedangkan
mataku yang terperangah mendengar ucapan bapak, berhasil menyiratkan segaris
ketakutan di dalam binar mata.
“Kau
lahir sendiri. Mati pun sendiri. Belajarlah hidup sendiri”
Aku
tak berani mengiyakan ungkapan bapak. Bagiku, cerita pertemuan orang-orang
dengan ular yang berukuran besar, telah berhasil membuat takut anak usia 9
tahunan sepertiku.
Dan
hingga hari yang kuimpikan itu tiba. Aku berhasil berdiri di ujung gunung tanpa
rasa takut. Mataku menatap takjub jalanan yang terlihat luas dari kuamati di
depan rumah, ternyata hanya tampak segaris hitam di dalam kubangan. Lalu
pepohonan yang berdiri lebat nan menghijau, terlihat begitu anggun di belakang
gunung. Ah, indah betul saat itu. Mengingat, tatkala kukumpulkan suara lalu
kuteriak sekencang mungkin, mendadak suaraku memantul dan bergaung.
Ah,
sayang, negeriku. Kebesaran yang kulihat dan kukagumi sewaktu kecil dulu, kini
berubah beringas secara perlahan. Kudapati dirimu kini mulai berubah. Bangsa
yang terkenal ramah, mudah senyum, selalu mengucapkan permisi dan mengangguk
saat melintas, kini menjelma sebagai sosok yang mudah tersulut emosi, penjarah,
pembunuh, pemerkosa, bahkan pencuri jahanam uang rakyat.
Lantas,
kemanakah identitas bangsa yang bapak dan guruku kenalkan? Akankah ia telah
hilang tertelan tsunami Aceh? Entahlah, yang terasa kini negeriku terus
berubah. Berubah lebih beringas dan semakin
tamak pada kekuasaan.......
20 Oktober 2015

No comments:
Post a Comment