Thursday, 22 October 2015

Untuk Negeriku Yang Aneh Dan Semakin Aneh





Kau tau, negeriku. Aku belajar mencintaimu dari seorang bapak yang tak pernah mengenal lelah menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat tertinggi.

Aku belajar mengenalmu lewat guru, lewat buku, yang selalu berbicara “Kita hidup di negeri khatulistiwa. Andai tongkat ditanam, niscaya ia akan menjelma menjadi sebatang pohon tangguh”. Alangkah kagumnya pikiranku saat itu, saat buku dan guru-guruku menyebut namamu dengan bangga.  Sekali-kali pikiranku singgah diantara penjelasan guru tadi, kepada untaian pulau yang selalu ingin kukunjungi.
Barangkali kau tak harus tau negeriku, sebab masih banyak orang yang jauh mencintaimu melebihi kekagumanku padamu. Tentu dengan cara dan alur cerita yang berbeda. Pernah suatu hari negeriku, bapak yang sewaktu menyemai tanaman padi, dan aku yang mengikuti di pematang sawah, memandang takjub dengan hamparan tanaman petani yang di ujung depannya sepasang bukit menjular lebat pepohonannya. Tetapi kami lebih sering menyebutnya sebagai “Gunung Sepikul”.
“Kau akan jauh lebih takjub, kalau kau berdiri di sana” telunjuk bapak menuju ke ujung gunung sebelah timur.  Sedangkan mataku yang terperangah mendengar ucapan bapak, berhasil menyiratkan segaris ketakutan di dalam binar mata.
“Kau lahir sendiri. Mati pun sendiri. Belajarlah hidup sendiri”
Aku tak berani mengiyakan ungkapan bapak. Bagiku, cerita pertemuan orang-orang dengan ular yang berukuran besar, telah berhasil membuat takut anak usia 9 tahunan sepertiku.
Dan hingga hari yang kuimpikan itu tiba. Aku berhasil berdiri di ujung gunung tanpa rasa takut. Mataku menatap takjub jalanan yang terlihat luas dari kuamati di depan rumah, ternyata hanya tampak segaris hitam di dalam kubangan. Lalu pepohonan yang berdiri lebat nan menghijau, terlihat begitu anggun di belakang gunung. Ah, indah betul saat itu. Mengingat, tatkala kukumpulkan suara lalu kuteriak sekencang mungkin, mendadak suaraku memantul dan bergaung.
Ah, sayang, negeriku. Kebesaran yang kulihat dan kukagumi sewaktu kecil dulu, kini berubah beringas secara perlahan. Kudapati dirimu kini mulai berubah. Bangsa yang terkenal ramah, mudah senyum, selalu mengucapkan permisi dan mengangguk saat melintas, kini menjelma sebagai sosok yang mudah tersulut emosi, penjarah, pembunuh, pemerkosa, bahkan pencuri jahanam uang rakyat.
Lantas, kemanakah identitas bangsa yang bapak dan guruku kenalkan? Akankah ia telah hilang tertelan tsunami Aceh? Entahlah, yang terasa kini negeriku terus berubah. Berubah lebih beringas dan  semakin tamak pada kekuasaan.......


20 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...