Apa yang mesti diucapkan pada tanggal
dan hari yang sama dalam 6 tahun lalu? Sebuah awal mula kisah yang menyedot
energi, menguras pikiran, merongrong cacian. Barangkali, di awal kalimat ini,
saya pertanyakan dulu kehadiran Tuhan. Ya, saya akan bertanya padaNya...
Tuhanku yang selalu berada dalam jiwaku,
akankah skenario yang kau putar 6 tahun
lalu, adalah awal keterpurukan dalam penyembahanku padaMu. Seakan-akan, aku
makhluk pintar nan licik. Mengelabui semua insan terkecuali aku dan engkau.
Lalu, apa yang mesti aku petik ataukah kuterima pembalasanMu kini? Ah, apa
gunanya aku hidup dan tak hidup kalau pada akhirnya aku mati dalam busuk...
Tuhanku yang terkadang tak kuhadirkan
dalam setiap langkah dan waktu,
bukankah kau takkan biarkan makhlukmu
berada dalam jurang kenistaan? Atau kau tengah mengujiku dengan kenikmatan
keangkuhan agar kuterus menjauh dariMu? Lalu, apa gunanya aku hidup dan tak
hidup kalau pada akhirnya, neraka jawaban bagiku.....
Baiklah Tuhan, pertanyaanku cukup pada
siang ini. sekarang aku kan bertanya pada diriku sendiri:
Tidakkah kau muak dengan perilaku
penampung muka berbeda? Bukankah kau telah lama sekarat tetapi terus
memeliharanya? Ah, betapa bodoh dan sebodoh-bodohnya makhluk ada pada dirimu..
Tidakkah kau jenuh dengan segala
kelaukanmu melihat alam dan kehidupan yang terus menghasutmu? Sedangkan kau tak
mau membuka mata hati melainkan memanjakan mata dunia.
Jawablah
itu diriku,,
semua
tak ada yang abadi,
Ia
telah menunggumu
cepat
atau lambat, kau pasti bertemu
dan
kau, sahabatku
bukankah
kau pernah memangku purnama pada kisah kita?
Lalu
mengapa kau buang cahayanya hingga redup tak berteduh
Kau
tau sahabatku,
Kau
begitu angkuh
Mengasingkan
diri tanpa peduli
Duaniamu,
seakan kekal bersama senyummu yang tak lagi merekah pada malamku
Dan
terakhir, kepada waktu
Terima
kasih kau sempat pentaskan episode 28 Oktober 2009
Padanyalah
aku meringkuk
Belajar
mengeja malam lewat tasbih luka pengkhianatan
No comments:
Post a Comment