Wednesday, 28 October 2015

Selamat datang, 28 Oktober 2015



Apa yang mesti diucapkan pada tanggal dan hari yang sama dalam 6 tahun lalu? Sebuah awal mula kisah yang menyedot energi, menguras pikiran, merongrong cacian. Barangkali, di awal kalimat ini, saya pertanyakan dulu kehadiran Tuhan. Ya, saya akan bertanya padaNya...

Tuhanku yang selalu berada dalam jiwaku,
akankah skenario yang kau putar 6 tahun lalu, adalah awal keterpurukan dalam penyembahanku padaMu. Seakan-akan, aku makhluk pintar nan licik. Mengelabui semua insan terkecuali aku dan engkau. Lalu, apa yang mesti aku petik ataukah kuterima pembalasanMu kini? Ah, apa gunanya aku hidup dan tak hidup kalau pada akhirnya aku mati dalam busuk...

Tuhanku yang terkadang tak kuhadirkan dalam setiap langkah dan waktu,
bukankah kau takkan biarkan makhlukmu berada dalam jurang kenistaan? Atau kau tengah mengujiku dengan kenikmatan keangkuhan agar kuterus menjauh dariMu? Lalu, apa gunanya aku hidup dan tak hidup kalau pada akhirnya, neraka jawaban bagiku.....

Baiklah Tuhan, pertanyaanku cukup pada siang ini. sekarang aku kan bertanya pada diriku sendiri:
Tidakkah kau muak dengan perilaku penampung muka berbeda? Bukankah kau telah lama sekarat tetapi terus memeliharanya? Ah, betapa bodoh dan sebodoh-bodohnya makhluk ada pada dirimu..
 
Tidakkah kau jenuh dengan segala kelaukanmu melihat alam dan kehidupan yang terus menghasutmu? Sedangkan kau tak mau membuka mata hati melainkan memanjakan mata dunia.
Jawablah itu diriku,,
semua tak ada yang abadi,
Ia telah menunggumu
cepat atau lambat, kau pasti bertemu


dan kau, sahabatku
bukankah kau pernah memangku purnama pada kisah kita?
Lalu mengapa kau buang cahayanya hingga redup tak berteduh
Kau tau sahabatku,
Kau begitu angkuh
Mengasingkan diri tanpa peduli
Duaniamu, seakan kekal bersama senyummu yang tak lagi merekah pada malamku

Dan terakhir, kepada waktu
Terima kasih kau sempat pentaskan episode 28 Oktober 2009
Padanyalah aku meringkuk
Belajar mengeja malam lewat tasbih luka pengkhianatan

No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...