Saturday, 24 October 2015

Sajak Dari Langit Selatan






Apa yang mesti kutulis
Pada lembar melati di pekarangan rumah, Bintang?
Sedangkan layu pada setiap kelopaknya
Masih menunduk ta’dzim di pangkuan kemarau

Mungkin aku tak tau, atau tak pernah tau
cerita angin menguningkan dedaunan selepas subuh pergi
karena isyarat yang kueja dari langit selatan
akan datangkan hujan menghapus kenangan
yang telah dikutuk menjadi sebongkah batu
Kalaulah nanti di bulan Januari, puisiku tak lagi kau baca
biarlah curah hujan yang berhimpit di hari lahirmu menjadi saksi;

sebuah cerita yang diziarahi sunyi

dan untukmu, larilah bersama kamboja yang lebih serbak aromanya
biarkan melati yang kita tanam bersama di pulau utara
menguning diantara jejakmu tak pasti
bersanding dengan dinding kemarau
keringkan usia tanpa kata


23 Oktober 2015
08.20 @ Sampoer

Di tengah kekisruhan lelah kuliah dan air mata yang melingkari asmamu,
tulisan ini kugarap dalam percakapan rindu yang masih utuh
dan jemariku, tak pernah letih lahirkan puisi untukmu



No comments:

Post a Comment

Hikayat Seorang Santri Bodoh

Usiaku lima belas tahun waktu itu. Saat aku terbuang ke Madura. Ya, di sebuah pesantren Al-Amien inilah aku harus bersemedi. Tak tanggung...